Article
NAPAK TILAS / JEJAK R.M.P. SOSROKARTONO KAKAK R.A KARTINI
Posted: 2014-04-18
Posted: 2014-04-18
NAPAK TILAS | JEJAK SANG MANDOR KLUNGSU / JOKO PRING R.M.P. SOSROKARTONO
Oleh : Victor Alexander Liem
Barusan tanggal 18 April 2014, saya mencari jejak Sang “Mandor Klungsu” atau “Joko Pring”, nama samaran dari R.M.P. Sosrokartono. Umumnya orang hanya mengenal R.A. Kartini, yang adalah adik dari R.M.P. Sosrokartono.
Saya mencari makam R.M.P. Sosrokartono hanya berdasarkan petunjuk bahwa makam beliau berada di daerah Kaliputu. Ternyata tidak sulit mencarinya. Saya juga baru menyadari daerah Kaliputu yang sudah sering saya lalui adalah jalan Sosrokartono. Baru melalui jalan Sosrokartono sudah nampak dipinggir jalan tulisan “Makam Keluarga Sidomukti. Trah Tjondronegaran dan makam Drs. RMP. Sosrokartono.”
[Dipinggir jalan Sostrokartono ada tertulis Makam Keluarga Sidomukti. Trah Tjondronegaran dan makam Drs. RMP. Sosrokartono]
Saya masuk melalui dua gerbang. Gerbang yang pertama adalah yang setelah jalan raya, gerbang kedua adalah menuju pada kompleks pemakaman. Semula saya bingung karena kompleks pemakaman yang begitu luas. Ada sekitar 300 orang yang dimakamkan di sana. Ada bagian yang paling megah, setelah saya dekati ternyata bukan makam R.M.P. Sosrokartono. Tertulis Aryo Condro Negoro, yang adalah kakek buyut beliau, yang adalah bupati Kudus pada zaman Hindia Belanda. Pada zaman itu Kudus dan Pati masih jadi satu wilayah.
[Gerbang Dalam]
Makam R.M.P. Sosrokartono ternyata lebih sederhana. Tapi justru yang sering dikunjungi. Kebetulan menjelang hari Kartini, ada dua orang wartawan yang sedang meliput. Wartawan itu mendapat informasi bahwa dahulunya disamping makam Sosrokartono ada tempat untuk makam R.A. Kartini. Namun karena R.A. Kartini menikah dengan bupati Rembang, maka akhirnya beliau dimakamkan di Rembang. Seandainya R.A. Kartini juga dimakamkan di Kudus sini, tentu akan semakin banyak yang melakukan ziarah. Mengingat R.A. Kartini lebih banyak dikenal di Indonesia daripada Sosrokartono.
[Foto diatas adalah Makam R.M.P. Sosrokartono]
[Bapak Sunarto, Juru Kunci]
Setelah nyekar sebentar. Saya duduk santai berbicara dengan juru kunci Bapak Sunarto yang adalah juru kunci ke-10 setelah menggantikan ayahnya.
Dari obrolan ada beberapa informasi menarik. Pertama tentang pengelolaan makam. Kompleks makam dibiayai oleh yayasan yang sumber dana dari pemilik Mustika Ratu, ibu Moeryati Soedibyo, karena beliau masih memiliki keturunan dari trah Condronegoro.
Pembicaraan kedua tentang pribadi R.M.P. Sosrokartono. Banyak hal cerita yang sama seperti informasi Sosrokartono pada umumnya yang bisa kita ketahui dari internet. Menunjukkan ada sosok yang jenius, orang pribumi pertama yang menuntut ilmu hingga di Belanda, bukan hanya itu jenius dan memiliki laku spiritual yang tinggi. Sosrokartono dikenal kuat tirakatnya, pernah puasa ngebleng selama 49 hari. Dan disebutkan oleh juru kunci bahwa beliau adalah Guru spiritual Soekarno. Pada waktu Sosrokartono membantu Taman Siswa, beliau menjadi direktur sekolah dan salah satu guru dalam organisasi tersebut adalah Soekarno.
[Lukisan Sang Mandor Klungsu / Joko Pring]
Falsafah hidup dan apa yang ditulis Sosrokartono adalah lelaku. Bukan hal teoritis tapi memang dipraktikkan sepanjang hidupnya. Sebutan Mandor Klungsu memiliki arti tersendiri. Klungsu adalah bijih asem. Yang kecil dan keras. Ketika ditanam akan tumbuh dengan rimbun memayungi tumbuhan sekitarnya. Ini prinsip hidup Sosrokartono. Sepanjang hidupnya tetap sederhana, tidak mau menampilkan diri dan tetap dibawah, memberi naungan, mengayomi orang-orang kecil.
Sebutan yang lain adalah Joko Pring. Beliau tetap “joko”, selibat dan tidak menikah. Pring adalah bambu. Apapun jenis kita, bangsa kita, agama kita, ras, warna kulit, perbedaan bahasa dan suku kita, kita tetap sama, sama-sama tahu, sama-sama manusia. Apapun jenis, warna dan bentuknya bambu, tetap bambu. Tak ada perbedaan, semua sama belaka. Manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah sama. Sikap egaliter ini mungkin tumbuh karena Sosrokartono menguasai banyak bahasa, termasuk bahasa lokal sekitar 10 bahasa. Memahami bahasa, berarti memahami budaya dan tentu dibutuhkan sikap yang egaliter ini.
Hal lain, menyinggung tentang apakah sering pejabat datang di makam R.M.P. Sosrokartono. Menurut Juru kunci, sangat jarang. Umumnya sebelum jadi pejabat masih ziarah di sini. Tapi setelah menjadi pejabat sudah tidak pernah lagi. Saya bertanya, mengapa begitu? Pak Sunarto, Sang juru kunci tersebut menjawab. “Catur Murti. Antara pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan haruslah sama. Zaman sekarang terbalik semua. Pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan sudah berbeda. Terlalu kotor sehingga enggan melakukan ziarah kesini.”
R.M.P. Sosrokartono tidak punya apa-apa dalam sepanjang hidupnya, kecuali catur murti ini. Bahkan rumah di Bandung saja mengontrak. Jika ingin menikmati hidup sebagai bangsawan yang terpelajar tentu begitu mudah bagi beliau untuk bekerja dan menjadi orang yang mewah dalam hidupnya. Pusakapun tidak punya kecuali Alif. Aslinya berupa sulaman aksara Alif, yang sekarang disimpan oleh keturunan Trah Condronegoro di Brebes.
Dari cerita Juru Kunci, saya baru tahu alasan mengapa Sosrokartono menggunakan aksara Alif. Alif adalah aksara sederhana, awal, satu, itu adalah kelurusan budi, mengarah pada Tuhan. Laku spiritual Sosrokartono adalah lurus. Kelurusan itu terbukti dari lelaku hidupnya. Kelurusannya ini yang menjadi orang yang buruk sikapnya enggan mendekati beliau, bahkan berrziarah di makam beliau.
[Sebelah Barat/Kiri Nisan]
[Sebelah Timur/Kanan Nisan]
Untuk mewakili kisah hidupnya, Sosrokartono menulis kalimat yang nantinya dipisah menjadi dua yang masing-masing diletakkan di kedua sisi nisan.
Sebelah kiri (Barat):
“Soegih tanpo bondo, Digdoyo tanpo adji.
Ngeloroeg tanpo bolo, menang tanpo ngasoraken.”
Artinya: Kaya tanpa harta, kuat tanpa
Sebelah Kanan (Timur):
“Trimah mawi pasrah. Soewoeng pamrih tebih adjrih
Langgeng tan ono soesah, tan ono seneng
Anteng manteng, soegeng djeneng.”
Keduanya jika dirangkai, akan berarti: Kaya tanpa harta, berkuasa tanpa jabatan. Maju bertempur tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan. Menerima dengan tulus (pasrah), tanpa pamrih hidup tenang tidak kenal duka dan suka, Diam sungguh-sungguh maka akan selamat sentosa.
R.M.P. Sosrokartono tidak hidup mewah dan juga tidak hidup dalam lingkungan kekuasaaan. Lebih menempatkan diri sebagai orang yang mengayomi, mendukung dari belakang. Di balik nama besar seperti Soekarno, R.A. Kartini, ada beliau ini. Hidupnya tidak mengenal suka dan duka. Hanya tenteram dan damai saja.
Setelah banyak berbicara dengan Juru kunci, sebelum pulang saya beli sebuah buku. Ternyata di sana ada beberapa buku kuno, buku fotocopyan tentang R.M.P. Sostrokartono (bukan karya beliau), ulasan dari Koesnadi Partosatmoko. Masih ada beberapa buku lain tentang ajaran beliau.
Saya memilih buku SHANTIH. TUNTUNAN ETHIKO-PSIKOLOGIK.
R.M.P. Sosrokartono adalah seorang ilmuwan sekaligus mistikus. Banyak referensi ilmu-ilmu Barat yang juga beliau gunakan. Kearifan Timur tetap digunakan hingga akhir hayatnya. Mengapa? Walaupun saya belum banyak paham ajaran beliau selain secuil informasi ttg ajaran beliau. Dalam hati bertanya-tanya. Apa karena kearifan Timur itu sarat akan ajaran tentang ketenteraman hati?
Pada akhirnya menuju pada ketenteraman hati ini.
[Fotocopyan buku SHANTIH. Tuntunan Ethiko-Psikologik, karya R.M.P Sosrokartono. Masih banyak karya-karya beliau]


