Article
NYAWANG KAREP
Posted: 2015-09-29
Posted: 2015-09-29
Nyawang karep, arti harafiahnya mengamati keinginan. Hal ini menjelaskan keadaan bathin yang hanya mengamati gerak-gerik pikiran. Tidak berusaha mengatur atau mengendalikan atau ikut campur, tapi menerima dan menangkap basah (ngonangi) ulah pikiran itu sendiri.
Kemampuan mengamati seperti ini populer di Barat dalam istilah mindfulness of mind. Perhatian atau menyadari keadaan/kondisi pikiran. Dalam bahasa Pali setara dengan cittanupasana, yaitu pengamatan atau kontemplasi pada pikiran. Tahapan awal adalah kayanupasana, yaitu pengamatan akan keadaan fisik. Jika bathin semakin halus, lembut dan stabil, barulah bisa mengamati keadaan bathin.
Nyawang karep itu termasuk kareping rahsa, alias mengikuti rasa, berbeda dengan rahsaning karep, alias mengikuti nafsu keinginan.
Jika tidak mampu mengamati pikiran apa adanya, maka pikiran cenderung ikut campur dan akibatnya tidak jeli sehingga hanya mengikuti gerak dorongan keinginan saja. Inilah yang dimaksud dengan rahsaning karep.
Nyawang karep itu ibarat mengamati keadaan. Kendatipun orang awam masih punya keinginan, itu ibarat percikan api. Tapi jika percikan api tersebut tanpa ditambahi bahan bakar, maka percikan api itu tidak akan pernah menjadi besar dan membara.
Nyawang karep otomatis akan mengarah pada ketulusan (sepi ing pamrih). Dari sinilah kedamaian dan ketenangan hadir dan mempengaruhi ucapan dan perbuatan kita.
Oleh : Victor Alexander Liem


